Yang Wei salut pada mereka, “Tak
menyangka mereka main segemilang itu,”. Lalu dalam pertandingan Indonesia Open
2008 lalu, Vita dan Liliyana berhasil merebut gelar juara ganda putri.
Prestasi itu menaikkan peringkat pasangan yang baru ‘dijodohkan’ ini, dari
peringkat sembilan ke peringkat enam Federasi Bulutangkis Dunia (BWF).
(hebat... dah sempat masuk 3 besar
BWF.... :O ;P )
‘Produk’ Satu Klub
Mereka berdua lahir dari kub
bulutangkis yang sama, yakni PB (Persatuan Bulu Tangkis) Tangkas, salah satu
klub bulu tangkis terbesar di Jakarta, yang menelurkan banyak pebulu tangkis
andal, seperti Hendrawan dan pasangan Ricky Subagja-Rexy Mainaki. Namun
pertemuan pertama mereka justru terjadi di pelatnas (pemusatan latihan
nasional), setelah Liliyana Bergabung tahun 2002, sementara Vita masuk pelatnas
sejak 1996.
Vita memang tergolong atlet
senior. Wanita kelahiran Jakarta, 4 Januari1981 ini mengaku sudah jatuh cinta
pada bulu tangkis sejak umur 6 tahun. “Saat itu saya juga diperkenalkan pada
jenis olahraga lain, seperti renang dan tenis meja. Tapi saya lebih tertarik
pada bulu tangkis,” ujar Vita, yang dibesarkan sendiri oleh ayahnya, Aris
Harsono, sejak usia 9 bulan.
Di usianya yang ke-8, sang
ayah mendaftarkannya ke sebuah klub bulu tangkis dekat rumah. Di klub itulah
Vita melatih kemampuannya setiap pulang sekolah. Melihat keseriusan Vita,
ayahnya berinisiatif memasukannya ke PB Tangkas. Tiga tahun kemudian Vita
direkrut oleh pelatnas sebagai pemain nasional.
Berbeda dengan Vita,
perjalanan karier Liliyana (atau yang akrab disapa Butet atau Yana), terbilang
unik. Ia tergabung di di PB Tangkas secara tak sengaja. Lulus dari bangku
sekolah dasar di Manado, ia bersama beberapa anggota keluarganya berlibur ke
Jakarta. “Tiba-tiba mama nawarin saya ikut tes masuk PB Tangkas. Tak disangka,
saya lulus,” ujar wanita kelahiran Manado, 9 September 1985, ini. Pasalnya,
meski sering berlatih bulutangkis, semua itu dijalaninya sebatas hobi.Buntut
dari kelulusan itu, mamanya meminta Liliyana menentukan pilihan : antara
sekolah atau bulu tangkis. Rupanya ia kadung cinta pada bulu tangkis sejak
kecil. Lima tahun mengasah kemampuan di klub itu, barulah akhirnya Liliyana
ditarik masuk pelatnas.
JALAN MULUS, JALAN BERLIKU
Sebelum resmi berduet, Vita
dan Liliyana sudah memiliki catatan perjalanan karier masing-masing. Karier
Liliyana terbilang mulus. Saat dipasangkan dengan Nova Widianto sebagai ganda
campuran di tahun 2003, Liliyana langsung menorehkan banyak prestasi membanggakan.
Di antaranya, Juara Dunia 2005 dan 2007, serta peringkat pertama dunia saat ini
(2008).
Sementara itu, catatan
perjalanan Vita lebih panjang dan berliku. Sebelum berpasangan dengan Liliyana,
sudah beberapa kali ia dipasangkan dengan atlet wanita lain, salah satunya
Deyana Lomban. Bersama Deyana, Vita pernah menempati peringkat pertama dunia
tahun 1999. Di sektor ganda campuran, Vita juga pernah berpasangan dengan Nova
Widianto, sebelum akhirnya ‘dinikahkan’ dengan Flandy Limpele. Meski kala itu keduanya
tercatat sebagai ganda campuran
terkuat Indonesia yang sarat
prestasi (di antaranya gelar Juara Asia 2003, Jepang Terbuka, dan Singapura
Terbuka 2004), PBSI terpaksa menceraikan mereka di tahun 2005.
“Penyebabnya, saya mengalami
cedera pada bahu kanan saat bermain di Malaysia Terbuka 2004, sehingga memaksa
saya beristirahat untuk menunggu saya pulih,” kata Vita. Saat itulah Nova
dipasangkan dengan Liliyana.
Usai menjalani operasi, Vita
sempat mengalami keterpurukan. beberapa kali dipasangka dengan pemain putra,
seperti Devin Lahardi dan Anggun Nugroho, ia gagal mengulang kesuksesannya. Hal
itu sempat membuatnya frustasi, hingga memutuskan mundur dari dunia bulu
tangkis. Bahkan , ia sudah mengutarakan niat itu kepada pelatihnya, Richard
Mainaky.
Namun seolah tidak rela jika
salah satu anak didik kebanggaannya mundur, Richard menawari Vita untuk
berpasangan lagi dengan Flandy. Tak disangka, dalam permainan pertama mereka di
Jepang Terbuka 2006, pasangan ini berhasil keluar sebagai juara. Mereka mengalahkan
rekan senegaranya sendiri yang justru jadi unggulan pertama, yakni Nova Dan
Liliyana.
Bagi Vita, itulah kemenangan
paling mengesankan. “Bisa dibilang, itu menjadi awal baru karier saya. Karena
usai operasi, banyak yang meremehkan kemampuan saya,” ungkapnya. Selanjutnya,
kemenangan demi kemenangan (antara lain Singapura Open 2007, Taiwan Open 2007,
Dan Kejuaraan Asia 2007 Di Malaysia) mengantarkan mereka di peringkat empat
dunia saat ini.
Ambisi di olimpiade (berita
lawas... wass.. wasss..)
Vita dan Liliyana bercerita, sebelum
dipasangkan PBSI, mereka sudah lama ingin bermain bersama. “Sebelumnya, tiap
ada pertandingan ke luar negeri, kami selalu tinggal dalam satu kamar, sehingga
saling merasa cocok,” kata Vita. Setelah sukses menjalani pertandingan uji coba
di Superliga Bulu Tangkis 2007, Vita Dan Liliyana dikirim ke turnamen
internasional pertama mereka, yakni China Super Series 2007. Hebatnya, mereka
langsung berhasil menjadi juara. “Selama beberapa menit setelah kemenangan itu,
saya sempat tidak percaya’” ujar Liliyana.
Kemenangan itu menjadi
berkesan, karena mereka merupakan pasangan baru yang sama sekali tidak
diunggulkan. Selain itu, mereka berhasil membukukan kemenangannya atas tim kuat
China, Pan Pan dan Tin Qing di negara mereka sendiri. “Istilahnya, ketika itu
kami berhasil menang melawan macan(macan ketemu macan... aseeekkk!!), di
kandang macan itu sendiri,”ujar Vita, sambil tertawa. Dalam waktu kurang dari
setahun, mereka menjadi pasangan terbaik Indonesia, menyalip pasangan ganda
putri yang sudah lebih dulu ada, seperti Jo Novita-Greysia Polii dan Rani
Mundiasti-Endang Nursugianti.(ka gepol skarang sama ci meli... :d)
Kesuksesan mereka di ganda
putri membuat mereka melupakan perannya di ganda campuran. Pada Olimpiade
Beijing bulan Agustus mendatang, keduanya sepakat akan lebih memfokuskan diri
di ganda campuran (Vita dan Liliyana sama-sama akan terjun di dua partai; ganda
putri dan ganda campuran). “Melihat peringkat dunia saya di ganda campuran,
sepertinya peluang menang akan lebih besar’” ujar Liliyana. “Apalagi PBSI juga
memberi kami target juara di ganda campuran dibanding ganda putri,” tambah
Vita.
Namun keduanya tidak ingin terbebani
oleh target. “Suatu kali, gara-gara merasa terbebani oleh target, saya justru
gagal, karena tidak bisa bermain lepas saat berlagi di kejuaraan dunia di
Madrid tahun 2006,” ungkap Liliyana. “Sebaiknya, jika bermain tanpa beban. Kami
justru bisa mengerahkan kemampuan maksimal. Contohnya ketika bermain di China
Super Series 2008,” imbuh Vita.
Suatu hal yang pasti, dari
pertandingan apa pun, mereka berambisi merebut emas di olimpiade. Bagi
Liliyana, ini kesempatan pertamanya mengikuti ajang olahraga bergengsi itu.
Bagi Vita, ini kesempatan untuk menebus kegagalan di Olimpiade Athena 2004.
(olimpic london....aq brharap
kalian dipasangin lagi!!! walaupun cuma mimpiiiiiii,,,,,)
SAHABAT YANG BAIK
Meski belum benar-benar pasti,
Vita berencana mundur usai olimpiade. Menanggapi rencana itu, Liliyana merasa
sedikit tidak rela. “Saya tidak hanya akan kehilangan pasangan main hebat, tapi
juga sahabat yang penuh pengertian. Vita punya teknik permainan yang cerdas.
Hal itu terlihat dari penempatan bola yang bagus dan mematikan,” puji Liliyana.
Vita tidak mau kalah, “Jumping smash butet sangat bagus. Dan, hal yang paling
saya suka, ia adalah pekerja keras. Semangatnya sangat besar,” sanjung Vita.
Di luar lapangan, mereka
dikenal cukup dekat. Diakui Vita, inilah yang menjadi salah satu resep
kekompakan mereka di lapangan. Di sela jadwal latihan yang csangat padat, tak jarang
mereka menghabiskan waktu santai berdua. Aktivitas yang mereka pilih adalah
main biliar. “Kami berdua memang sama-sama senang main biliar. Kalau sudah main
berdua, bisa lupa waktu,” Ujar Vita. Sifat tomboi keduanya juga membuat mereka
saling cocok. “Kami sama-sama tidak suka dan tidak punya koleksi rok di dalam
lemari,” ujar Vita.
Saat ditanya soal kekasih,
keduanya kompak menjawab, “Belum kepikiran tuh,”. Keduanya khawatir, kehadiran
pria akan mengganggu konsentrasi mereka di pelatnas. “Namanya orang pacaran kan
pasti ada saja masalahnya,” ujar Liliyana, yang masih ingin lebih lama
menikmati kebebasannya.(PADAHAL KA VITA UDAH LOH... maklum berita lama)
“Mungkin nanti, setelah keluar
dari pelatnas, saya batu bisa konsentrasi mencari kekasih. Kalau bisa, sih,
inginnya dapat pasangan pria asing,” ujar Vita, tersenyum malu.(ahh doyannya
bule, tapi jodohnya orang dalam negri.. syukurii...)
Majalah
Femina no.29 /20 januari 2013
well itu semua berita
lawassss... semoga cita2 mreka brdua bisa trpenuhi....SEMOGA SEA GAMES DI
PASANGIN LAGI!!!! amiiiiinnnnnnnnn :pmaaf ya kak nadia, berikan satu kesempatan
lagi buat kak butet duet sama ka vita......semua orang merindukan mereka(trmasuk
aq!!!)I MISS VITA MARISSA/LILIYANA NATSIR
sumber : www.facebook.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar