Marmon series
ftv BM . "arti persahabatan"
simon
adalah pria tampan nan keren merupakan anak asuh kepelatihan nasional /
pelatnas , yang berteman dengan seorang wanita cantik jelita yang hanya
direkrut di sebuah klub. suatu hari mereka bertemu dan salin sapa .
“
Oke.. mon, kau memang sahabatku.., saatnya aku membalas kebaikanmu selama ini”
Aku
tak mengerti apa yang dimaksud dengan maria
“
Setelah sekian lama kita berteman, aku baru sadar, aku belum melakukan apa-apa
untukmu”
Aku
merasa pembicaraan ini mulai tidak nyaman untukku, apa yang kau mau
maria… aku masih tak mengerti
“
Aku sudah memutuskan aku akan melakukan sesuatu untukmu.. tapi aku tak tau apa
yang harus aku lakukan”, perasaan simon makin terasa berat, berarti ia pun
tak nyaman dengan pembicaraan ini.
“
setelah ku timbang-timbang, lebih baik kau sendiri yang minta apa yang harus ku
lakukan “, lanjutnya
Aku
terdiam sesaat, tenggorokan ku kering beberapa detik
“
Tapi aku tak butuh apa-apa mar..”, kataku , “ Dan aku juga tak berharap apa-apa
dari persahabatan kita”, lanjutku lagi
“
Ya aku juga pikir begitu… aku juga tak berpikir persahabatan kita dilandasi
pemberian dan penerimaan, aku hanya merasa aku belum pernah melakukan sesuatu
untukmu”
“
Kau tak perlu melakukan sesuatu untukku mar.., aku tak pernah meminta sesuatu
dari yang ku lakukan “
“
Aku percaya itu mon.. tapi setelah selama ini, sudah sepantasnya kau memberi
aku kesempatan berbuat yang sama untukmu”
“
Tapi mon…”
“
Jangan egoist mon.. aku juga ingin berharga didepanmu”
Lama
kami terdiam. Obrolan ini tampak aneh. Seaneh permintaan maria.
“
Demi persahabatan kita mon, beri aku kesempatan berbuat sesuatu untukmu”
maria
meminta dengan harap, aku terdiam dalam gundah. Obrolan ini anti klimaks.
“
oke.. “ ujarku mengalah, “ tapi jangan paksa aku mengatakannya sekarang, beri
aku waktu…, “ pinta ku
“
o..ke”, sambut maria senang , “ berapa hari ?”, tanyanya antusias
“
1 minggu.., berarti rabu depan kita ketemu di tempat biasa” ucapku ragu sambil
menentukan tempat pertemuan, maksudku Cafebook dan marmonpower perusahaan kita
itu, tempat kami biasa berdiskusi sambil menikmati secangkir coklat sambil
memegang raket.
Kami
bersalaman dengan perasaan hati yang berbeda.
****
Itulah
awal yang membuat hatiku hambar. Pagi hilang cerianya, siang berlalu tak
berbekas, malam menjadi monster yang menerkam gelap hingga aku tersadar hari
telah pagi lagi. Begitu seterusnya, hingga tak terasa 1 minggu hampir berlalu.
Ini adalah hari terakhir, malam ini aku akan mengatakan permintaanku pada
maria. Sialnya sampai detik ini aku belum menemukan apa yang ku mau.
Ku
coba mengingat-ingat apa yang kubutuhkan dalam hidupku. Aku pernah ingin
berkeliling dunia, jadi aku minta saja tiket pesawat ke seluruh kota-kota
besar di dunia. maria pasti tak keberatan, toh proyek yang kami dapat kemarin
nilainya triliunan rupiah. Tiket pesawat keliling dunia tidak akan sampai
sepuluh persennya. Wajar bagi sahabat yang belum pernah melakukan apa-apa. Atau
aku minta saja buatkan lapangan badminton seluas Senayan Jakarta yang
diselesaikan dalam satu malam. Ha ha ha.. memangnya aku Roro Jonggrang.
Aku senyum dan tertawa dengan ide tersebut. Mungkin aku minta wanita Uzbekisthan
saja, sepuluh kalau perlu. Tapi setelah ku timbang-timbang istriku mau
dikemanakan. Ah… pusing aku memikirkan permintaanku sendiri.
Letih
memikirkan permintaanku, aku ganti memikirkan jalannya persahabatanku dengan
maria. Siapa tau ada hal yang ku ingin dari dirinya namun tak sempat
terkatakan.
maria rekan atlitku , kami beda jalur ,maria yang ikut pb djarum sedangkan aku
bimbingan pemerintah / pelatnas. Kami berteman karena punya hobi yang sama,
Coklat panas, buku.dan memegang raket ,hhe. Kami selalu bercita-cita akan
membuat perusahaan tp memadukan 3 itu yang memadukan ketiga hal tersebut.
Kami sampai bermalam-malam membicarakan rencana tersebut. Tak perlu menunggu
lama. pensiun nanti , cita-cita tersebut langsung kami wujudkan. Aku
bertanggung jawab dengan buku, dan maria dengan coklat, aku buat perpustakaan,
maria buat café. setelah lelah dengan buku dan coklat. Peresmian cafebook kami
dihadiri teman-teman dekat, jauh dari perkiraan bahwa ini adalah cikal bakal
perusahaan raksasa di negeri ini. hanya dalam jangka waktu 3 bulan
cafebook juga marmon power sudah menjadi tempat nongkrong ‘kaum pemikir’, kaum
yang rela menghabiskan waktu berjam-jam dengan buku dan diskusi. Masuk bulan ke
empat, coklat menjadi minuman paling trend di kota bekasi. Tapi maria tidak
mudah puas, ia berhari-hari tidak tidur memikirkan bagaimana menaikan laba
keuntungan. Aku berusaha mendukung sepenuhnya.Marmonpower semakin ramai,
sehingga kami harus membuka beberapa cabang. Permintaan dari beberapa daerah
yang ingin memfranchise marmonpower membuat usaha kami menjadi waralaba yang
paling menjanjikan, itu versi majalah terbitan ibukota.
“
mon… gimana kalau kita beli saja penerbit-penerbit kecil, tentu keuntungannya
akan berlipat”
“
Tapi dana kita terbatas, mar “, ujarku khawatir
“
Tenang , kita investasikan saja seluruh dana yang ada, toh kita sudah mempunyai
tempat melempar buku yang kita terbitkan, caffebook adalah tempat kita
mendistribusikan buku”, jawab maria yakin
Perhitungan
maria tak pernah meleset, penerbit-penerbit kecil yang kami beli menjelma
menjadi penerbit raksasa. Caffebook ditempat-tempat tertentu mengalami
perluasan.maria langsung menangkap peluang bisnis tersebut. Tak lama
kemudian Mal-marmonpower kami sudah berdiri.
“
mon.. bagaimana kalau kita beli saja perusahaan astec“
Kemudian
“
mon .. gimana kalau kita ..” lalu
maria
sangat menghormati keberadaanku, semua rencananya selalu meminta pendapatku.
Aku selalu mendukungnya. Selalu. Sungguh !.
Hanya
dalam waktu 5 tahun caffebook dan MARMONPOWER telah menjelma menjadi perusahaan
nasional. Jaringannya telah menjalar ke segala bidang. Dengan sedikit-sedikit
pengetahuan politikku, kami juga membiayai calon-calon kepala daerah. Tentu
yang mempunyai peluang menang. Hampir seluruhnya menang. Kamipun berhamburan
proyek-proyek pembangunan dari Bupati dan Gubernur yang kami sponsori. Dengan
begitu kami juga telah masuk dunia politik. Bahkan terakhir kami membiayai
ketua partai sampai ia duduk di Kementerian. Dari pak Menteri inilah, pekerjaan
kami kini menginjak angka 12 digit. maria begitu menikmati, aku juga. Lebih
tepatnya aku bahagia karena maria begitu senang.
###
Tapi
aku tetap belum menemukan apa yang kubutuhkan
Waktu
terus berjalan, tinggal 3 jam lagi sebelum pertemuan. Otakku sudah mulai
penat.aku memutuskan beberapa senar yang sebenarnya itu untuk dijual ,huhh ..
aku sudah mulai penat dengan semua ini
Satu
demi satu kata-kata mengalir dari hatiku, dari hati bukan dari pikiran.
Setelah beberapa saat.. akhirnya selesai sudah. Ternyata menulis jauh lebih
cepat disbanding menyiapkan kata. Ku pandangi beberapa saat, ku baca beberapa
kali, ku edit sana sini. Aku tersenyum pedih, tapi aku puas.
###
MARMONPOWER
jam 23.00
maria terduduk sendiri, sudah 2 jam ia menunggu, hanya ditemani sebuah surat.
Lian masih menunggu simon. maria tak tahu jika simon tak akan datang. Bahkan
maria tak tahu simon bukan cuma tak datang.
###
Hai
maria..
Aneh
rasanya menulis surat padamu. Padahal kita bertemu setiap hari.
Kita
berteman sudah 10 tahun, namun rasanya baru kemarin. Banyak hal yang kita
lalui, tapi selalu saja ada yang tak terungkap. Mungkin kita terlalu asik
dengan pekerjaan hingga kita lupa mengenal satu sama lain.
Jangan
kau tunjukan surat ini pada istrimu, aku akan malu setengah mati.
Malam
ini seharusnya kita bertemu, maaf aku tak datang, maaf tak memberi tau. padahal
kita sudah menunggu 1 minggu untuk pertemuan ini. Tenang saja, aku tak
melupakannya. Aku masih ingat tentang permintaanmu. Justru disitulah
masalahnya. Aku telah berusaha semampuku, bahkan melebihi kemampuanku.
Aku tak menemukan apa yang kau minta. Masih belum bisa..
Selama
ini aku selalu bersemangat mewujudkan mimpi-mimpi kita, atau mimpimu
sebetulnya. Bersemangat dengan ide-idemu, menggebu dengan terobosan briliantmu.
Aku mendukung semua rencana kita,( maaf rencana-rencanamu). Dan aku sangat
menikmati saat-saat itu, hingga aku lupa apa yang sebenarnya ku inginkan. Aku
sudah mencarinya. Yakinlah aku sudah berusaha untuk itu.
Setelah
lama kupikirkan, akhirnya ku simpulkan, aku hanya ingin seperti ini. Inginku
hanya mewujudkan mimpimu, semangat dengan ide-idemu, rasakan gebu terobosan
briliantmu. Aku cukup dengan peranku sebagai pendukungmu. Bukan kau yang
tergantung dengan ku mar, tapi aku. Aku begitu ketergantungan sebagai pendukung
segala ide-idemu. Aku tak punya permintaan lain. Aku hanya ingin seperti ini.
Kini
idemu memintaku dengan keinginan pribadiku, aku tak punya kemampuan itu. Kau
yang terbiasa dengan peran ini. Peranku sebagai pendukungmu.
Demi
persahabatan alasanmu. Kata-kata itu begitu mengiang di telingaku.
Maaf
maria.. aku sudah berusaha, aku tak mampu. Tapi aku tahu diri. Bukankah Sahabat
yang baik adalah yang mengerti keinginan sahabatnya. Aku bukan sahabat yang
baik untukmu maria, aku tak dapat memenuhi keinginanmu. Aku cukup tahu diri.
Aku tidak lagi layak menjadi sahabatmu. Maaf atas ketidakmampuanku.